Filipina merupakan negara pasarberkembang dan negara industri baru, yang perekonomiannya bertransisi dari sektor pertanian menjadi sektor jasa dan manufaktur. Negara ini juga memiliki sumber daya alam dan merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Negara ini juga merupakan anggota dari berbagai organisasi dan forum internasional, terutama Perbara. Meski pertumbuhan ekonomi negara ini relatif cepat, tetapi Filipina masih mengalami masalah yang berkaitan dengan kesenjangan ekonomi dan korupsi yang merajalela. Filipina adalah salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Indeks Risiko Dunia (WRI) 2023 menempatkan Filipina pada peringkat pertama, dengan risiko negara paling rawan bencana alam tertinggi di dunia. Terletak di sepanjang Cincin Api Pasifik, negara ini sangat rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi. Selain itu, negara ini sering kali dilanda 20 angin topan setiap tahunnya.
Filipina pertama kali dinamai demikian pada tahun 1542 oleh penjelajah asal Spanyol Ruy López de Villalobos yang kala itu menamai kepulauan Leyte dan Samar "Felipinas" untuk menghormati Putra Mahkota Felipe, yang kemudian menjadi Raja Felipe II dari Spanyol. Setelah beberapa waktu, nama "Las Islas Filipinas" kemudian menjadi nama yang merujuk kepada kepulauan yang dikuasai oleh Spanyol.[13]: 6 Nama lain juga diberikan kepada kepulauan ini seperti "Islas del Ponientecode: es is deprecated " (Kepulauan Barat), "Islas del Orientecode: pt is deprecated " (Kepulauan Timur), dan "San Lázarocode: es is deprecated " (Kepulauan Santo Lazarus).[14][15]
Selama Revolusi Filipina, Kongres Malolos mengumumkan nama negara yang mereka dirikan sebagai República Filipinacode: es is deprecated (Republik Filipina).[16] Pada masa pendudukan Amerika Serikat, nama yang digunakan untuk kepulauan tersebut adalah the Philippine Islandscode: en is deprecated (Kepulauan Filipina), yang merupakan terjemahan langsung dari nama resmi bahasa Spanyol.[17] Nama tersebut kemudian menjadi the Philippinescode: en is deprecated (Filipina) melalui Undang-Undang Otonomi Filipina dan Hukum Jones.[18] Nama resmi Republic of the Philippinescode: en is deprecated (Republik Filipina) kemudian diresmikan dalam konstitusi tahun 1935 sebagai nama negara merdeka Filipina pada masa depan.[19] Nama tersebut masih digunakan hingga konstitusi saat ini.[20]
Terdapat berbagai bukti arkeologis yang menandakan keberadaan Hominin di Kepulauan Filipina sekitar 709.000 tahun lalu.[21] Sementara bukti fosil nenek moyang manusia, yaitu Homo luzonensis, ditemukan di Gua Callao, yang diperkirakan hidup sekitar 50.000 hingga 67.000 tahun lalu.[22] Sementara itu, bukti tertua keberadaan manusia modern ditemukan di Gua Tabon, Pulau Palawan, yang menurut penanggalan uranium–torium berasal dari 47.000 ± 11.000 atau 10.000 tahun lalu.[23] Fosil yang ditemukan dikenal sebagai Manusia Tabon, dan diduga merupakan manusia ras Negrito, salah satu penghuni paling awal kepulauan tersebut. Diketahui bahwa ia berasal dari keturunan migrasi manusia pertama keluar dari Afrika melalui jalur pesisir di sepanjang Asia Selatan ke dangkalan Sunda dan Sahul yang masih kering.[24]
Orang Austronesia pertama kali mencapai Kepulauan Filipina dari Taiwan sekitar tahun 2200 SM. Mereka pada awalnya menetap di Kepulauan Batanes (di mana mereka membangun benteng batu yang dikenal sebagai ijang)[25] dan Pulau Luzon bagian utara. Artefak berupa giok yang ditemukan di kawasan tersebut diketahui berasal dari tahun 2000 SM,[26] dengan giok lingling-o yang ditemukan di Luzon memanfaatkan bahan baku yang berasal dari Taiwan.[27] Pada tahun 1000 SM, penduduk kepulauan tersebut telah berkembang menjadi empat kelompok masyarakat: suku pemburu-pengumpul, masyarakat ksatria, plutokrasi di dataran tinggi, dan kerajaan maritim.[28]
Peninggalan catatan tertulis paling awal mengenai Filipina adalah Prasasti Keping Tembaga Laguna yang berasal dari abad ke-10 Masehi, ditulis dengan menggunakan aksara Kawi dalam bahasa Melayu Kuno.[29] Sejak abad ke-14, berbagai pemukiman pesisir mulai dibangun dan menjadi pusat perdagangan, menyebabkan perubahan struktur masyarakat di dalamnya.[30] Berbagai pemerintahan juga telah menjalin hubungan dagang dengan negara lain di Asia,[31]: 3 termasuk Tiongkok pada masa dinasti Tang akhir dan dinasti Song.[32] Beberapa pemerintahan di Filipina juga diketahui memberikan upeti kepada Tiongkok.[13]: 177–178 [31]: 3 Hubungan diplomasi dan perdagangan tersebut membawa serta pedagang dari Tiongkok dan migran dari Fujian Selatan untuk bermukim dan menjadi penduduk Filipina.[33][34] Selain Tiongkok, pengaruh budaya India juga berkembang di kepulauan tersebut, di mana ajaran agamanya mulai menyebar pada abad ke-14 oleh pengaruh Majapahit.[35] Pada abad ke-15, agama Islam mulai tersebar di Filipina melalui Kepulauan Sulu.[30]
Dari abad ke-10 hingga abad ke-16, berbagai pemerintahan telah berdiri di Filipina, seperti Manila,[36]Tondo, Namayan, Pangasinan, Caboloan, Cebu, Butuan, Maguindanao, Lanao, Sulu, dan Ma-i.[37] Pemerintah-pemerintahan tersebut pada dasarnya memiliki tiga kelas masyarakat, yakni bangsawan, orang merdeka, dan budak yang bekerja untuk debitur.[31]: 3 [38]: 672 Di antara para bangsawan terdapat pemimpin yang dikenal sebagai "datu", yang bertanggung jawab akan pemerintahan otonom yang dikenal sebagai barangay atau dulohan.[39] Ketika barangay bergabung dengan barangay lain untuk membentuk pemukiman yang lebih besar atau untuk aliansi,[31]: 3 maka anggota bangsawan yang paling terhormat akan memegang jabatan sebagai "datu tertinggi",[40]: 58[28] "raja", atau "sultan",[41] yang akan pemimpin komunitas tersebut.[42] Kepadatan populasi di Filipina pada saat itu masih sangat rendah,[40]: 18 yang diakibatkan oleh bencana berupa topan dan letusan gunung berapi, mengingat letaknya kepulauan tersebut di Cincin Api Pasifik.[43] Pada tahun 1521, bangsa Eropa pertama kali mencapai Kepulauan Filipina ketika Fernando de Magelhaens tiba di sana dan mengklaim kepulauan tersebut sebagai milik Kerajaan Spanyol. Ia sendiri terbunuh dalam Pertempuran Mactan oleh pasukan yang dipimpin oleh Lapulapu.[44]: 21[45]: 261
Kepulauan Filipina kemudian ditetapkan sebagai koloni Mahkota Kastilia oleh penjelajah Spanyol, Miguel López de Legazpi, yang datang dari Spanyol Baru pada tahun 1565.[46][47]: 20–23 Banyak penduduk Filipina yang kemudian diangkut oleh Spanyol sebagai budak, sementara penduduk Spanyol Baru menetap di Filipina sebagai tentara atau pemukim baru.[48] Pada tahun 1571, pemerintah kolonial mendirikan ibu kota koloni di Manila, yang saat ini merupakan distrik Intramuros, yang sekaligus menjadi ibu kota Imperium Spanyol di Asia-Pasifik[49] yaitu Kekaptenjenderalan Filipina dan Hindia Timur Spanyol.[50] Dalam proses kolonisasi tersebut, Spanyol menguasai berbagai negara kecil menggunakan taktik politik pecah belah,[45]: 374 yang pada akhirnya menyatukan sebagian besar wilayah kepulauan tersebut di bawah satu pemerintahan kolonial terpadu.[51][52]
Sistem barangay di kepulauan tersebut kemudian direduksi secara administratif menjadi kota-kota, di mana para misionaris Katolik dapat dengan mudah mengonversi penduduk Filipina,[53]: 53, 68 yang pada mulanya masih bersifat sinkretis.[54]Kristenisasi oleh biarawan Spanyol sebagian besar dilakukan di pemukiman dataran rendah dan berkembang seiring berjalannya waktu. Dari tahun 1565 hingga 1821, Filipina merupakan bagian dari Wizurai Spanyol Baru, yang beribukota di Kota Meksiko. Setelah Perang Kemerdekaan Meksiko, pengelolaan koloni ini dipusatkan di Madrid.[55]: 81 Manila sendiri berkembang menjadi pusat perdagangan trans-Pasifik di bagian barat samudra tersebut,[56] di mana galiung Manila banyak dibangun di Bikol dan Cavite.[57][58]
Selama masa kolonial Spanyol, penduduk asli Filipina sering kali melakukan pemberontakan, yang menguras sebagian besar pendanaan kolonialnya.[55]: 111–122 Selain itu, Spanyol juga berurusan dengan ancaman militer dari luar kepulauan,[59]: 1077 seperti perompak Moro[60] dan berbagai kesultanan di Mindanao, Belanda, serta Britania Raya.[61]: 4 Britania Raya sendiri sempat menduduki Manila selama 2 tahun pada waktu Perang Tujuh Tahun dan dikembalikan kepada Spanyol melalui Perjanjian Paris tahun 1763.[47]: 81–83 Adapun urusan dengan masyarakat Muslim di Mindanao dan Sulu dianggap oleh Spanyol sebagai perpanjangan dari Reconquista.[62] Konflik tersebut, terutama konflik Spanyol dengan Bangsa Moro, berlangsung selama beberapa ratus tahun sampai akhirnya Spanyol menguasai sebagian besar wilayah mereka pada akhir abad ke-19[63] dan Kesultanan Sulu mengakui kekuasaan Spanyol atas Sulu.[64]
Akibatnya, Filipina dianggap telah menguras sebagian besar perekonomian Spanyol Baru,[59]: 1077 dan Imperium Spanyol mempertimbangkan untuk meninggalkan koloni tersebut atau menukarkannya dengan wilayah koloni lain. Pertimbangan ini ditentang karena potensi ekonomi, keamanan, keinginan untuk melanjutkan proses konversi agama di wilayah tersebut.[40]: 7–8[65] Pada akhirnya, koloni tersebut dibiayai dengan subsidi dari monarki Spanyol[59]: 1077 dengan pembiayaan rata-rata sebesar 250.000 peso per tahun,[40]: 8 yang dibayar dalam bentuk 75 ton perak batangan dari Amerika.[66]
Seiring berjalannya waktu, dan setelah seluruh pelabuhan di Filipina terbuka bagi perdagangan internasional, masyarakat Filipina mulai mengalami transformasi.[67] Identitas orang Filipina, yang sebelumnya hanya diperuntukkan untuk orang Spanyol yang lahir di Filipina, mulai digunakan untuk merujuk kepada masyarakat Filipina secara keseluruhan.[68] Sentimen revolusioner mulai tumbuh pada tahun 1872, ketika 200 buruh dan tentara kolonial lokal bersama dengan tiga pendeta Katolik dieksekusi oleh pemerintah kolonial dengan alasan yang dipertanyakan.[69] Hal ini memicu Gerakan Propaganda, yang dipimpin oleh Marcelo H. del Pilar, José Rizal, Graciano López Jaena, dan Mariano Ponce, yang mendorong pemerintah kolonial untuk melakukan reformasi.[70] Sementara itu, Andres Bonifacio mendirikan perkumpulan rahasia Katipunan pada tahun 1892 yang mendorong kemerdekaan Filipina dari Spanyol.[55]: 137 Pada tanggal 30 Desember 1896, Rizal dieksekusi atas dakwaan pemberontakan, dan kematiannya mendorong banyak yang masih setia kepada Spanyol untuk menuntut kemerdekaan.[71]
Revolusi Filipina dimulai dengan Seruan Pugad Lawin oleh Katipunan pada tahun 1986.[72] Selama berjalannya revolusi, terjadi pertikaian internal kaum revolusioner dalam Konvensi Tejeros, di mana Bonifacio kehilangan posisinya sebagai pemimpin revolusi dan digantikan oleh Emilio Aguinaldo.[73]: 145–147 Pada tahun 1897, pemerintah revolusioner menyetujui gencatan senjata melalui Pakta Biak-na-Bato, yang membuat pemerintahan tersebut mengasingkan diri ke Hong Kong. Setahun kemudian, Perang Spanyol–Amerika Serikat dimulai dan kabarnya tersiar Filipina. Mengetahui hal itu, Aguinaldo kembali dari pengasingan, memulai kembali revolusi, dan mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol pada tanggal 12 Juni 1898.[74]: 26 Spanyol yang mengalami kekalahan menyetujui Perjanjian Paris pada tahun yang sama, dengan memberikan Filipina, Puerto Riko, dan Guam kepada Amerika Serikat.[75] Hal tersebut mengakhiri kekuasaan Spanyol di Filipina yang berlangsung selama 333 tahun.[76]
Republik Filipina Pertama kemudian dideklarasikan pada tanggal 21 Januari 1899.[77] Amerika Serikat, yang memulai pendudukan kepulauan Filipina, tidak mengakui republik tersebut. Hal tersebut menimbulkan pecahnya perlawanan yang, setelah penolakan komandan militer AS atas proposal gencatan senjata di tempat dan deklarasi perang oleh Republik Filipina,[e] berkembang menjadi Perang Filipina–Amerika Serikat.[78][79][80]
Perang tersebut menimbulkan korban jiwa sebanyak 250.000 hingga 1 juta rakyat sipil, sebagian besar diakibatkan oleh bencana kelaparan dan wabah penyakit.[81] Orang Filipina yang tertangkap banyak yang diangkut ke kamp konsentrasi, di mana ribuan di antaranya meninggal di sana.[82] Republik Filipina Pertama kemudian jatuh pada tahun 1902 dan pemerintahan sipil Amerika Serikat didirikan dengan disahkannya Undang-Undang Organik Filipina.[83] Pasukan AS menetap di wilayah tersebut untuk menegakkan kendali atas kepulauan tersebut dan menumpas pemberontakan pascaperang, seperti pendirian Republik Tagalog oleh Macario Sakay.[73]: 200–202[81] AS juga mengamankan perjanjian damai dengan Kesultanan Sulu,[84] membangun kendali di wilayah Orang Ifugao yang telah menghalau penaklukan Spanyol,[85] serta mendorong pemukiman penduduk Kristen berskala besar di Pulau Mindanao, yang dulunya ditempati oleh mayoritas Muslim.[86]
Selama masa kolonial AS, perkembangan budaya di Filipina memperkuat identitas nasional,[87] dan bahasa Tagalog kemudian berkembang menjadi bahasa yang umum digunakan di Filipina melebihi bahasa lokal lainnya.[53]: 121 Pemerintahan Filipina secara bertahap diberikan kepada orang Filipina melalui Komisi Taft,[59]: 1081, 1117 dan pada tahun 1934, Undang-Undang Tydings–McDuffie menyetujui masa transisi sepuluh tahun menuju kemerdekaan penuh Filipina melalui pembentukan Persemakmuran Filipina setahun kemudian,[88] dengan Manuel L. Quezon dan Sergio Osmeña ditunjuk sebagai presiden dan wakil presiden.[89] Pemerintahan Quezon memfokuskan diri pada pertahanan, kesenjangan sosial, diversifikasi ekonomi, dan pembentukan identitas nasional.[59]: 1081, 1117Bahasa Filipino, yang merupakan bahasa Tagalog yang terstandardisasi, diangkat menjadi bahasa nasional.[90]: 27–29 Selain itu, hak suara perempuan diterapkan di Filipina pada tahun 1937[45]: 416 dan reformasi pertanahan sempat dipertimbangkan untuk diterapkan.[91]
Pemerintahan Manuel Roxas diteruskan oleh Ramon Magsaysay, di mana ia melanjutkan rekonstruksi pascaperang dan mengakhiri Pemberontakan Hukbalahap,[100] meski konflik bersenjata dengan komunis di Filipina masih berlangsung secara sporadis.[101]Carlos P. Garcia meneruskan pemerintahan Magsaysay dengan menginisasi kebijakan Pilipino Muna, yang memprioritaskan bisnis asli Filipina.[53]: 182Diosdado Macapagal, presiden selanjutnya, memindahkan perayaan Hari Kemerdekaan Filipina dari tanggal 4 Juli ke 12 Juni, sesuai dengan tanggal deklarasi kemerdekaan Aguinaldo.[102] Macapagal juga memulai klaim Filipina atas Sabah bagian timur.[103]
Pada tahun 1965, Ferdinand Marcos terpilih sebagai presiden Filipina setelah memenangkan pemilihan umum. Pada masa awal pemerintahannya, Marcos memulai proyek infrastruktur yang didanai oleh pinjaman dari luar negeri, yang meningkatkan perekonomian Filipina sekaligus membuat ia terpilih kembali dalam pemilu 1969.[104]: 58 Pada akhir masa jabatannya, Marcos mendeklarasikan darurat militer pada tanggal 21 September 1972,[105] dengan alasan pemberontakan komunisme dan separatisme Moro di negara tersebut[106] dan memulai pemerintahan melalui dekret[107] dan ditandai dengan penindasan lawan politik, penyensoran, dan pelanggaran hak asasi manusia.[108] Kroni Marcos berperan dalam memonopoli berbagai industri negara,[109] termasuk industri penebangan kayu,[110] penyiaran,[45]: 120 dan bahan pokok seperti gula, yang secara tidak langsung menyebabkan bencana kelaparan di Pulau Negros.[111] Marcos bersama istrinya, Imelda, dituduh melakukan korupsi dan menggelapkan dana negara hingga mencapai miliaran dolar.[112] Peminjaman besar-besaran Marcos pada masa awal pemerintahannya menyebabkan ekonomi Filipina jatuh, yang diperburuk oleh resesi awal 1980-an.[113]: 212
Pada tanggal 21 Agustus 1983, pemimpin oposisi sekaligus rival politik Marcos, Benigno Aquino Jr., dibunuh di Bandara Internasional Manila.[114] Menanggapi protes akibat pembunuhan tersebut, Marcos kemudian mengadakan pemilu presiden awal pada tahun 1986,[115] yang menetapkan dirinya sebagai pemenang. Pemilu tersebut dianggap telah dicurangi[116] dan pada tanggal 22 Februari 1986, protes kecurangan pemilu berkembang menjadi Revolusi EDSA, yang memaksa Marcos dan sekutunya mengasingkan diri ke Hawaii. Corazon Aquino, yang merupakan istri mendiang Benigno, dilantik menjadi presiden[117] dan konstitusi baru kemudian disahkan.[118]
Upaya reformasi pemerintahan dan demokratisasi Filipina pada tahun 1986 sempat dihambat oleh besarnya utang negara, korupsi di pemerintahan, dan upaya kudeta.[104]: xii, xiii [119] Konflik bersenjata dengan komunis[120] dan separatisme Moro juga masih berlanjut.[121] Selain itu, masa pemerintahan Aquino Filipina juga menghadapi berbagai bencana alam, termasuk letusan Gunung Pinatubo pada bulan Juni 1991.[122]Fidel Ramos kemudian meneruskan pemerintahan Aquino, yang meliberalisasi perekonomian nasional dengan privatisasi dan deregulasi.[123] Penerusnya, Joseph Estrada, memprioritaskan pembangunan perumahan umum,[124] tetapi ia menghadapi dakwaan korupsi,[125] yang membuatnya lengser melalui Revolusi EDSA II dan digantikan oleh wakil presidennya, Gloria Macapagal-Arroyo, pada tanggal 20 Januari 2001.[126]
Rodrigo Duterte meneruskan kepresidenan setelah memenangkan pemilu tahun 2016[134] yang pada masa pemerintahannya ditandai dengan menurunnya liberalisme di Filipina, meski negara tersebut masih mempertahankan kebijakan perekonomian liberal.[135] Pemerintahan Duterte juga ditandai dengan peningkatan pembiayaan infrastruktur untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara,[136] penerapan Hukum Organik Bangsamoro,[137] meningkatnya tindakan keras terhadap kejahatan dan komunis,[138] serta kampanye antinarkoba untuk mengurangi angka penggunaan narkoba,[139] tetapi juga meningkatkan jumlah pembunuhan di luar hukum.[140] Pemerintahannya juga mengalami Pandemi Covid-19 yang mencapai Filipina pada bulan Januari 2020,[141] yang menyebabkan perekonomian negara tersendat.[142] Putra Marcos, Bongbong Marcos, melanjutkan kepemimpinan Duterte setelah memenangkan pemilu 2022 bersama dengan wakilnya Sara Duterte, yang merupakan anak pendahulunya.[143] Pada masa kepresidenannya, Marcos memutar haluan kebijakan luar negeri dari Tiongkok ke Amerika Serikat, menyebabkan peningkatan ketegangan sengketa di Laut Tiongkok Selatan.[144] Pada masa pemerintahannya, ia menangkap mantan presiden Duterte dan membawanya ke Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan kemanusiaan, yang menyebabkan aliansi Marcos dengan wakil presidennya menjadi pecah. Selain itu, berbagai tuduhan korupsi dan penyimpangan pengelolaan dalam proyek pengendalian banjir menyebabkan aksi unjuk rasa yang berlangsung di seluruh negara.
Berbagai flora dan fauna endemik di Filipina. Searah jarum jam dari kiri atas: tamaraw (Bubalus mindorensis), elang filipina (Pithecophaga jefferyi), patogo (Cycas riuminiana), dan kura-kura hutan filipina (Siebenrockiella leytensis).
Filipina merupakan salah satu dari negara megadiversitas,[162][163] di mana sekitar 67% flora dan faunanya merupakan spesies endemik.[164] Hutan hujan negara ini merupakan rumah bagi lebih dari 13.500 spesies flora, di mana 3.500 spesies di antaranya merupakan spesies endemik.[165] Spesies yang telah teridentifikasi tersebut terdiri dari 8.000 spesies tumbuhan berbunga, , 33 spesies tumbuhan biji terbuka, dan 1.100 spesies tumbuhan paku.[166] Filipina juga merupakan rumah bagi berbagai macam spesies fauna, di mana 167 mamalia darat (102 spesies endemik), 235 reptil (160 spesies endemik), 99 amfibi (74 spesies endemik), 686 burung (224 spesies endemik),[167] dan lebih dari 20.000 spesies serangga tinggal di dalamnya.[166]
Filipina juga merupakan bagian dari ekoregion Segitiga Terumbu Karang,[168] yang menyimpan kehidupan laut dengan keanekaragaman hayati tinggi[169] dan merupakan kawasan dengan ikan pantai paling beragam di dunia.[170] Negara tersebut memiliki lebih dari 3.200 spesies ikan di mana 121 di antaranya merupakan spesies endemik.[171] Penduduk Filipina juga memanfaatkan perairan untuk melakukan budi daya perairan bagi berbagai jenis ikan, udang-udangan, tiram, dan rumput laut.[172]
Hutan di Filipina umumnya dikategorikan menjadi delapan jenis: hutan meranti, hutan pantai, hutan pinus, hutan molave, hutan montana rendah, hutan lumut, hutan mangrove, dan hutan ultrasa.[173] Menurut perhitungan resmi pemerintah, Filipina memiliki luas tutupan hutan sekitar 7.000.000 hektar pada tahun 2023.[174]Penebangan hutan umum dilakukan sejak masa kolonial Amerika Serikat[175] dan terus berlanjut setelah kemerdekaan, yang kemudian digalakkan pada masa kepresidenan Marcos, yang diakibatkan oleh konsesi hutan yang tidak diregulasi.[176] Akibatnya, tutupan hutan berkurang secara drastis dari 70 persen luas total daratan pada tahun 1900 menjadi 18,3 persen pada tahun 1999.[177] Meski demikian, berbagai upaya reboisasi telah dilakukan dan mencapai keberhasilan sedikit demi sedikit.[178]
Topan Haiyan pada tahun 2013 merupakan salah satu topan terkuat yang pernah melanda Filipina.[184]
Filipina memiliki iklim tropis maritim yang umumnya panas dan lembap. Musim di Filipina sendiri dapat dibagi menjadi tiga: musim kemarau panas pada bulan Maret hingga Mei, musim hujan pada bulan Juni hingga November, dan musim kemarau sejuk dari bulan Desember hingga Februari.[185] Angin monsun dari barat daya (yang dikenal sebagai habangat) berlangsung dari bulan Mei hingga Oktober, sementara monsun timur laut (dikenal sebagai amihan) bertiup pada bulan November hingga April.[186]: 24–25
Bulan terdingin terjadi pada bulan Januari, sementara bulan terpanas terjadi pada bulan Mei. Suhu permukaan laut di penjuru Filipina umumnya sama, terlepas dari posisinya pada lintang. Suhu rata-rata tahunan terukur adalah sekitar 26,6 °C (79,9 °F). Suhu rata-rata tahunan terdingin adalah 18,3 °C (64,9 °F), yang diukur di Kota Baguio, 1.500 meter di atas permukaan laut.[187] Kelembapan rata-rata negara ini adalah 82 persen.[186]: 24–25 Curah hujan tahunan negara ini beragam, di mana di pegunungan pesisir timur dilanda hujan sebanyak 5.000 milimeter per tahun, sementara lembah terlindungnya dilanda hujan sebanyak 1.000 milimeter per tahun.[185]
Filipina dikenal sebagai negara yang rentan terhadap topan dan siklon tropis. Wilayah perairan negara tersebut diketahui dilanda 19 topan setiap tahunnya,[188] umumnya terjadi pada bulan Juli hingga Oktober.[185] Delapan atau sembilan di antaranya mendarat di daratan Filipina.[189] Rekor topan terbasah yang melanda Filipina terjadi pada tanggal 14 hingga 18 Juli 1911, di mana curah hujan di Kota Baguio tercatat mencapai 2.210 milimeter.[190] Negara tersebut merupakan salah satu dari sepuluh negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim.[191]
Kongres Filipina berperan sebagai lembaga legislatif di negara tersebut, yang memiliki dua kamar: Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Senat merupakan majelis tinggi yang terdiri atas 24 senator, yang dipilih melalui pemilihan umum untuk masa jabatan enam tahun. Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat merupakan majelis rendah yang saat ini terdiri dari 318 anggota yang dipilih untuk masa jabatan tiga tahun.[197] Senator dipilih secara umum,[197] sementara anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih dari lembaga legislatif tiap distrik dan daftar partai.[195]: 162–163 Adapun lembaga yudikatif Filipina dikepalai oleh Mahkamah Agung, yang memiliki seorang Ketua Mahkamah Agung sebagai kepalanya, dan 14 hakim pembantu.[198] Semuanya ditunjuk oleh presiden melalui nominasi yang diberikan oleh Dewan Peradilan dan Pengacara.[192]
Sejak tahun 1975, Filipina telah menjalin hubungan dengan Tiongkok,[234] yang merupakan mitra dagang terbesarnya,[235] dan telah mengusahakan kerja sama dengan dampak signifikan bagi negara tersebut.[232]Hubungan Filipina dengan Jepang juga terjalin dengan Jepang memberi bantuan pembangunan resmi bilateral terbesar bagi Filipina.[236][237] Kendati terdapat berbagai ketegangan akibat Perang Dunia II, permusuhan di antara kedua negara berangsur memudar.[61]: 93 Filipina juga menjalin hubungan dengan Spanyol, termasuk dalam hal sejarah dan budaya.[238] Hubungan Filipina dengan Timur Tengah terbentuk dari tingginya jumlah orang Filipina yang bekerja di negara-negara tersebut[239] dan oleh isu-isu berkaitan dengan minoritas Muslim di Filipina.[240] Filipina sendiri memiliki kekhawatiran terkait kekerasan terhadap pekerjanya dan perang yang memengaruhi sekitar 2,5 juta pekerja Filipina perantauan di wilayah tersebut.[241][242]
Sebanyak US$477 juta (atau 1,4 persen PDB) dianggarkan bagi Angkatan Bersenjata Filipina pada tahun 2023.[252][253] Anggaran tersebut sebagian besar dihabiskan oleh Angkatan Darat, yang diperuntukkan untuk mengatasi ancaman dalam negeri seperti pemberontakan separatis komunis dan Muslim. Akibat hal tersebut, kemampuan Angkatan Lautnya menjadi menurun, terutama pada tahun 1970-an.[254] Program modernisasi militer pada akhirnya dicanangkan pada tahun 1995[255] dan diperluas pada tahun 2012 untuk membangun sistem pertahanan yang mumpuni.[256]
Adapun pemberontakan komunis di Filipina merupakan konflik bersenjata yang telah terjadi sejak tahun 1970-an. Konflik tersebut digencarkan oleh Partai Komunis Filipina dan sayap militernya, Tentara Rakyat Baru, yang melancarkan perang gerilya, penyergapan, pengeboman, dan pembunuhan berbagai pejabat pemerintah dan militer.[266] Pemberontakan komunis mulai berangsur menyusut setelah kembalinya demokrasi di Filipina pada tahun 1986,[258] meski Partai Komunis Filipina dan sayap militernya terus mendapat dukungan publik di perkotaan melalui Front Nasional Demokratik Filipina.[267] Menurut Indeks Perdamaian Global, Filipina sendiri berada di peringkat 104 dari 163 negara pada tahun 2024.[268]
Secara geografis, Filipina dibagi menjadi 3 kelompok kepulauan utama, yakni Luzon, Visayas, dan Mindanao. Secara administratif, Filipina dibagi menjadi 18 region, 82 provinsi, 149 kota, 1.493 munisipalitas, dan 42.011 barangay.[269] Selain Bangsamoro, pembagian region tersebut dilakukan untuk kemudahan administratif.[270] Region dengan penduduk terbanyak adalah Calabarzon, sementara region dengan penduduk terpadat adalah Metro Manila.[271] Adapun region yang berada di Filipina dapat dilihat pada tabel dan peta berikut.
Filipina merupakan negara kesatuan, dengan pengecualian di Region Otonomi Bangsamoro, yang memiliki hukum dasarnya sendiri.[272] Desentralisasi telah diterapkan oleh pemerintah Filipina secara bertahap, meski ada pula dorongan untuk melakukan desentralisasi lebih jauh.[273] Pada tahun 1991, pemerintah pusat telah mendevolusi beberapa kewenangan kepada pemerintah daerah.[274]
Filipina merupakan pengimpor neto[217]: 55–56, 61–65, 77, 83, 111 dan negara debitur.[284] Hingga bulan September 2025, mitra ekspor negara ini adalah Amerika Serikat, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Belanda,[285] di mana ekspor utamanya mencakup sirkuit terpadu, minyak kelapa, kabel berisolasi, dan transformator listrik.[285] Sementara itu, mitra impor negara ini pada tahun yang sama adalah Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Indonesia, dan Amerika Serikat.[285] Filipina merupakan negara pengekspor hasil tani seperti kelapa, pisang, dan nanas. Filipina sendiri merupakan negara penghasil pisang abaka terbesar di dunia.[146]: 226–242 Selain itu, negara ini merupakan pengekspor bijih nikel terbesar kedua pada tahun 2022,[286] juga eksportir logam berlapis emas dan kopra terbesar di dunia pada tahun 2020.[285]
Filipina merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, di mana pertumbuhan rata-rata ekonominya mencapai enam hingga tujuh persen sejak tahun 2010.[287] Hal ini didorong oleh peningkatan sektor jasa di negara tersebut.[288] Pertumbuhan ekonomi daerah di dalam negeri tidak begitu merata, sementara wilayah urban, khususnya Manila, memperoleh manfaat pertumbuhan ekonomi tersebut.[289][290]Remitansi dari orang Filipina di perantauan telah berpengaruh signifikan terhadap ekonomi negara,[288][291] di mana remitansi menyusun sekitar 8,5 persen dari PDB Filipina (sekitar US$37,20 miliar) pada tahun 2023.[292] Filipina juga merupakan pusat pengalihdayaan proses bisnis di dunia,[293] di mana sekitar 1,3 juta masyarakatnya bekerja di sektor tersebut, termasuk yang bekerja di layanan pelanggan.[294]
Filipina merupakan negara yang memiliki sistem penelitian pertanian terbesar di Asia, meski anggaran untuk penelitian dan pengembangan pertanian relatif rendah.[295][296] Negara tersebut telah mengembangkan berbagai varietas hasil tani, seperti padi,[297] kelapa,[298] dan pisang.[299] Lembaga organisasi yang berperan dalam penelitian tersebut adalah Institut Penelitian Padi Filipina[300] dan Lembaga Penelitian Padi Internasional.[301]
Filipina memiliki salah satu negara dengan jumlah pengguna telepon genggamtertinggi,[305] dengan tingkat perdagangan seluler yang tinggi pula.[306] Masyarakat Filipina umumnya melakukan komunikasi melalui pesan teks, di mana negara tersebut tercatat mengirim rata-rata satu miliar pesan SMS per hari pada tahun 2007.[307] Industri telekomunikasi di Filipina sendiri didominasi oleh dua perusahaan PLDT dan Globe Telecom hingga tahun 2021,[308] ketika Dito Telecommunity berdiri dan meningkatkan layanan telekomunikasi di negara tersebut.[309]
Pariwisata menyumbang 5,2 persen PDB Filipina pada tahun 2021, meski angka ini lebih rendah dari tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19,[316][butuh pemutakhiran] dan menyediakan 5,7 juta lapangan pekerjaan pada tahun 2019.[317][butuh pemutakhiran] Filipina sendiri telah menarik kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 5,45 juta pada tahun 2023, meski angka ini lebih rendah dari pada tahun 2019, yang mencapai 8,26 juta. Kebanyakan wisatawan mancanegara ini berasal dari Kore Selatan (26,4 persen), Amerika Serikat (16,5 persen), Jepang (5,6 persen), Australia (4,89 persen), dan Tiongkok (4,84 persen).[318][butuh pemutakhiran]
Jeepney tradisional (kiri) dan modern di Kota Quezon. Kendaraan umum yang berusia lebih dari 15 tahun akan secara bertahap digantikan oleh kendaraan yang memenuhi standar Euro 4 yang ramah lingkungan.[319]
Moda transportasi darat, terutama jalan raya, merupakan moda transportasi yang dominan di Filipina, yang mengangkut 98 persen orang dan 58 persen kargo.[320] Pada bulan Desember 2018, terdapat lebih dari 210.528 kilometer jalan di negara ini.[321][butuh pemutakhiran] Tulang punggung transportasi darat di Filipina adalah Pan-Philippine Highway, yang menghubungkan pulau Luzon, Samar, Leyte, dan Mindanao.[322] Transportasi antar pulau dihubungkan melalui Philippine Nautical Highway System, yang merupakan sistem jalan raya dan rute feri terintegrasi sepanjang 919 kilometer yang menghubungkan 17 kota.[323][324] Filipina sendiri memiliki masalah kemacetan yang signifikan, khususnya di Manila dan di jalan-jalan arteri menuju ibu kota.[325][326] Transportasi umum di Filipina tersedia sebagai alternatif dari kendaraan pribadi, seperti jeepney (yang merupakan kendaraan umum terpopuler dan ikonik di negara tersebut),[146]: 496–497 bus, UV Express, TNVS, Filcab, taksi, dan traysikel.[327][328]
Pada tahun 2021, Filipina memiliki total kapasitas daya terpasang sebesar 26.882 MW. Dari total kapasitas dayanya, 43 persen dihasilkan dari batu bara, 14 persen dari minyak bumi, 14 persen dari tenaga air, 12 persen dari gas alam, dan tujuh persen dari sumber panas bumi.[347] Negara ini merupakan produsen energi panas bumi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Indonesia.[348] Bendungan terbesar di negara ini adalah Bendungan San Roque, yang membentang sepanjang 1,2 kilometer membendung Sungai Agno di Pangasinan.[349] Sumber utama minyak dan gas negara tersebut berada di ladang gas Malampaya, yang ditemukan pada tahun 1990-an di lepas pantai Palawan. Penemuan ladang gas ini mengurangi impor minyak Filipina sekaligus menyediakan keperluan energi negara sebanyak 30 persen.[146]: 347[350]
Penyediaan air dan sanitasi di luar Metro Manila disediakan oleh pemerintah melalui kantor distrik air lokal di berbagai kota.[358][359][360] Adapun penyediaan air dan sanitasi di Metro Manila disediakan oleh Manila Water dan Maynilad Water Services. Penggunaan air tanah di kawasan tersebut membutuhkan izin tertulis dari Dewan Sumber Daya Air Nasional, kecuali untuk sumur dangkal yang digunakan untuk penggunaan domestik.[359] Pada tahun 2022, jumlah air yang diambil meningkat menjadi 91 miliar meter kubik dari jumlah pada tahun sebelumnya, yakni 89 miliar meter kubik. Total pengeluaran untuk air pada tahun tersebut adalah ₱144,81 miliar.[361]
Sebagian besar limbah di Filipina dialirkan melalui tangki septik.[359] Pada tahun 2015, Program Pemantauan Bersama untuk Penyediaan Air dan Sanitasi mencatat bahwa 74 persen penduduk Filipina memiliki akses ke sanitasi yang lebih baik dan telah mendapat peningkatan kualitas sanitasi dari tahun 1990 hingga 2015.[362] Sekitar 96 persen rumah tangga di Filipina memiliki sumber air minum yang baik dan 92 persen rumah tangga memiliki fasilitas toilet sanitasi yang baik pada tahun 2016. Meski demikian, sambungan fasilitas toilet ke sistem pembuangan limbah yang layak sebagian besar masih belum memadai, terutama bagi masyarakat pedesaan dan masyarakat miskin di perkotaan.[363]: 46
Kode panggilan internasional untuk negara Filipina adalah +63. Sistem penomoran dan panggilan telepon di negara ini bersifat terbuka dan dikelola sepenuhnya oleh Komisi Telekomunikasi Nasional (NTC).
Nomor telepon tetap (sambungan rumah) terdiri dari delapan digit untuk wilayah Metro Manila dan sekitarnya (yang menggunakan kode area 02), serta tujuh digit untuk wilayah provinsi lainnya (dengan rentang kode area 03X hingga 08X). Sementara itu, nomor telepon seluler (ponsel) memiliki panjang sepuluh digit dan umumnya diawali dengan angka 8 atau 9 (contoh format domestik: 09XX-XXX-XXXX). Tiga operator jaringan seluler utama yang melayani negara ini adalah Globe Telecom, Smart Communications, dan Dito Telecommunity.
Sistem telekomunikasi seluler di Filipina telah menerapkan sistem Portabilitas Nomor Seluler (MNP) sejak tahun 2021, yang memungkinkan pelanggan berpindah jaringan operator tanpa harus mengganti nomor telepon mereka. Selain itu, sejak tahun 2022, pemerintah mewajibkan seluruh pengguna nomor prabayar maupun pascabayar untuk mendaftarkan kartu SIM menggunakan identitas resmi guna menanggulangi tindak kejahatan siber dan penipuan.
Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan pada bulan Juli 2024, Filipina memiliki populasi sebanyak 112.729.484 penduduk.[8] Lebih dari 60 persen penduduknya berada di kawasan pesisir.[364] Sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 54 persen penduduk hidup di kawasan perkotaan,[365] terutama Metro Manila. Region tersebut memiliki penduduk sebanyak 13,48 juta (sekitar 12 persen dari jumlah seluruh penduduk Filipina), di mana sebagian besar tinggal di Kota Quezon dan Manila.[365] Hal ini menjadikan Metro Manila sebagai kawasan metropolitan terbesar di Filipina[366] sekaligus kelima terbesar di dunia.[367] Pertumbuhan penduduk di negara ini meningkat pesat dari 19 juta penduduk pada tahun 1948 hingga mencapai 92 juta pada tahun 2010.[368]
Median umur penduduk negara ini adalah 25,3 tahun, dan 63,9 persen populasinya berada dalam rentang usia 15 hingga 64 tahun.[369] Tingkat pertumbuhan penduduk tahunan rata-rata di Filipina mulai menunjukkan tren penurunan,[370] meskipun upaya pemerintah untuk terus mengurangi pertumbuhan penduduk masih kontroversial.[371]Tingkat kemiskinan di negara ini menurun dari 49,2 persen pada tahun 1985[372] menjadi 18,1 persen pada tahun 2021.[373]Kesenjangan pendapatan di Filipina juga mulai menunjukkan penurunan sejak tahun 2012.[372]
Peta kelompok etnik mayoritas di setiap provinsi Filipina.
Filipina merupakan negara yang memiliki beragam etnis, baik karena faktor topografi dan lautan maupun karena pengaruh asing.[193] Dalam sensus penduduk tahun 2020, kelompok etnik terbesar di Filipina adalah Orang Tagalog, yaitu 26 persen. Jumlah ini diikuti oleh Orang Bisayak (tidak termasuk Orang Cebu, Orang Hiligaynon, dan Orang Waray; 14,3 persen), Orang Ilokan (8 persen), Orang Cebu (8 persen), Orang Hiligaynon (7,9 persen), Orang Bikolano (6,5 persen), dan Orang Waray (3,8 persen).[4]Masyarakat adat di negara tersebut terbagi dalam 110 kelompok etnolinguistik,[374] dengan populasi gabungan mencapai 15,56 juta pada tahun 2020.[4] Kelompok masyarakat adat ini termasuk suku Igorot, Lumad, Mangyan, dan masyarakat adat Palawan.[375]
Asal-usul suku-suku Austronesia di Filipina tidak dapat ditentukan secara pasti, tetapi kerabat penduduk asli Taiwan kemungkinan membawa bahasa mereka dan bercampur dengan penduduk di kepulauan tersebut.[380][381] Beberapa kelompok etnik seperti Lumad dan Bajau memiliki hubungan leluhur dengan orang Htin yang berbahasa Mlabri dan Austroasia, yang berasal dari daratan Asia Tenggara. Ekspansi orang berbahasa Papua ke arah barat dari Papua Nugini ke Indonesia timur dan Mindanao kemungkinan menurunkan orang Blaan. Sementara itu, beberapa penduduk India yang bermigrasi ke kerajaan-kerajaan pra-kolonial di kepulauan tersebut menurunkan penduduk Filipina keturunan India.[382]
Di Filipina, keturunan dari pasangan ras campuran dikenal sebagai Mestizo, yang juga dikenal sebagai tisoy.[387] Pada masa penjajahan Spanyol, sebagian besar mestizo terdiri dari mestizo Tionghoa (Mestizos de Sangley), mestizo Spanyol (Mestizos de Español) dan campuran keduanya (tornatrás).[388][389][390] Sensus upeti pada akhir abad ke-18 menunjukkan bahwa orang Spanyol Filipina hanya sekitar 5 persen dari semua penduduk di Filipina.[391]: 539 [392]: 31, 54, 113 Sementara itu, proporsi yang lebih kecil (2,33 persen) dari populasi tersebut merupakan orang Filipina keturunan orang Meksiko.[385]: 100 Tionghoa Filipina merupakan masyarakat imigran yang terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat Filipina modern.[193][393] Pada masa kolonial Amerika Serikat, Tionghoa di Filipina, terutama keturunan imigran dari Fujian konon, berjumlah sekitar 1,35 juta penduduk.[394] Saat ini, sekitar 22,8 juta (sekitar 20 persen) orang Filipina memiliki setengah atau sebagian keturunan Tionghoa dari imigran Tionghoa, baik yang datang sebelum masa kolonial, pada masa kolonial, maupun pada abad ke-20.[395][396]
Bahasa resmi di Filipina adalah bahasa Filipino dan bahasa Inggris.[406] Bahasa Filipino merupakan bahasa Tagalog yang telah dibakukan, dan umumnya dipakai di Region Metro Manila.[407] Bahasa Filipino dan bahasa Inggris, bersama dengan bahasa lokal sebagai bahasa ketiga, digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pemerintahan, pendidikan, media, dan bisnis.[408] Orang Filipina umum melakukan alih kode bahasa Inggris dengan bahasa lokal yang mereka kuasai, khususnya bahasa Tagalog.[409] Selain bahasa Filipino dan Inggris, Konstitusi Filipina juga mencatat bahasa Spanyol dan bahasa Arab sebagai bahasa opsional di negara tersebut.[406]Bahasa Spanyol sendiri merupakan basantara selama masa penjajahan Spanyol yang saat ini telah mengalami penurunan penggunaan yang signifikan.[410][411] Meski demikian, kata serapan dari bahasa Spanyol masih banyak terdapat dalam bahasa-bahasa di Filipina.[412][413][414] Sementara itu, bahasa Arab umum digunakan sebagai bahasa pengantar dalam sekolah Islam, khususnya di Mindanao.[415]
Islam merupakan agama kedua terbesar di Filipina. Menurut sensus penduduk 2020, Islam dianut oleh sekitar 6,4 persen penduduk,[427] khususnya di daerah Mindanao dan pulau-pulau sekitarnya.[424] Kebanyakan penganut Islam di negara tersebut merupakan bagian dari denominasi Sunni dan mengikuti mazhab Syafi'i.[432]
Sekitar 0,2 persen penduduk Filipina mengikuti agama asli Filipina,[427] yang praktiknya terkadang menyinkretiskan ajaran agama Kekristenan atau Islam.[157]: 29–30[433] Selain itu, orang Filipina, khususnya keturunan Tionghoa,[434] menganut Buddhisme, dengan jumlah penganut sekitar 0,04 persen dari populasi.[427]
Layanan kesehatan di Filipina disediakan oleh pemerintah pusat dan daerah, meskipun sebagian besar pengeluaran layanan kesehatan disumbangkan oleh pembayaran swasta.[363]: 25–27 [435] Pada tahun 2024, setiap kepala keluarga membiayai sekitar ₱12.751 untuk pengeluaran berkaitan dengan kesehatan, sementara negara tersebut menyisihkan 5,9 persen PDB-nya untuk pengeluaran kesehatan.[436] Pada tahun 2023, alokasi anggaran pemerintah Filipina untuk layanan kesehatan adalah ₱334,9 miliar.[437] Pemberlakuan Undang-Undang Cakupan Kesehatan Semesta tahun 2019 oleh Presiden Duterte memfasilitasi pendaftaran otomatis semua warga Filipina dalam program asuransi kesehatan nasional.[438][439] Sejak tahun 2018, pusat layanan kesehatan terpadu di negara tersebut telah didirikan di berbagai rumah sakit yang dikelola pemerintah untuk menyediakan bantuan medis kepada pasien kurang mampu.[440]
Angka harapan hidup di Filipina pada tahun 2023 adalah 70,48 tahun (66,97 tahun untuk pria dan 74,15 tahun untuk wanita).[127] Akses terhadap obat-obatan telah meningkat, seiring dengan diterimanya obat generik oleh masyarakat Filipina.[363]: 58 Pada tahun 2021, penyebab kematian utama di negara ini mencakup penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular, Covid-19, neoplasma, dan diabetes.[441]Penyakit menular berkolerasi terhadap bencana alam, terutama pada waktu banjir.[442] Filipina sendiri merupakan negara dengan tingkat prevalensi tuberkulosis keempat terbesar di dunia, di mana sekitar satu juta orang Filipina merupakan pengidap aktif.[443]
Filipina memiliki 1.387 rumah sakit (33 persen di antaranya miliki negara), 23.381 pusat kesehatan di tiap barangay, 2.592 unit kesehatan pedesaan, 2.411 rumah bersalin, dan 659 klinik yang aktif memberikan layanan kesehatan di penjuru negara.[444] Sejak tahun 1967, Filipina merupakan negara dengan penyuplai perawat terbanyak di dunia,[445] di mana 70 persen lulusan keperawatan bekerja di luar negeri, sehingga menimbulkan masalah dalam mempertahankan praktisi terampil di dalam negeri.[446]
Universitas Santo Tomas, yang didirikan pada tahun 1611, merupakan perguruan tinggi tertua di Asia yang masih berdiri hingga saat ini.[447]
Di Filipina, pendidikan dasar dan menengah terdiri dari enam tahun periode sekolah dasar, empat tahun sekolah menengah pertama, dan dua tahun sekolah menengah atas.[448] Sekolah negeri, yang disediakan oleh pemerintah, tidak memungut biaya pendidikan di semua tingkat dasar dan menegah dan di sebagian besar lembaga pendidikan tinggi negeri.[449][450] Siswa yang berbakat dapat memasuki sekolah menengah sains, yang pertama kali didirikan pada tahun 1963.[451] Pemerintah juga menyediakan lembaga pelatihan dan pengembangan teknis atau kejuruan melalui Otoritas Pendidikan Teknis dan Pengembangan Keterampilan.[452] Pada tahun 2004, pemerintah mulai menawarkan pendidikan alternatif kepada masyarakat Filipina yang mengalami putus sekolah untuk meningkatkan literasi.[453][454] Pada tahun yang sama, pemerintah juga mulai mendirikan berbagai madrasah, terutama di Bangsamoro, yang dikelola oleh Departemen Pendidikan.[455] Sekolah Katolik, yang jumlahnya lebih dari 1.500,[456] dan lembaga pendidikan tinggi juga merupakan bagian integral dari sistem pendidikan di negara tersebut.[457]
Pada tahun 2019, sekitar 93,8 persen masyarakat Filipina berusia lima tahun ke atas melek aksara dengan kemampuan literasi dasar,[465] sementara angka literasi fungsionalnya adalah 91,6 persen untuk masyarakat berusia 10 sampai 64 tahun.[466] Alokasi anggaran pemerintah untuk pendidikan adalah ₱900,9 miliar pada tahun 2023.[437] Pada tahun 2023, negara tersebut memiliki 1.640 perpustakaan umum, yang terafiliasi dengan Perpustakaan Nasional Filipina.[467]
Filipina merupakan negara dengan keanekaragaman budaya yang tinggi, diperkuat oleh fragmentasi geografinya.[31]: 61[468] Budaya warisan kolonial Spanyol dan Amerika Serikat sangat memengaruhi budaya Filipina.[193][469] Beberapa kebudayaan, seperti kebudayaan Suku Lumad di Mindanao dan Kepulauan Sulu berkembang secara berbeda karena memiliki pengaruh kolonial Spanyol yang terbatas dan lebih dipengaruhi oleh wilayah Muslim di dekatnya.[38]: 503 Sementara itu, kelompok pribumi lainnya seperti Suku Igorot tetap melestarikan adat dan tradisi prakolonial dengan terus-menerus melawan Spanyol.[470][471] Namun demikian, perbedaan pengaruh budaya tersebut tidak menghalangi identitas nasional untuk terbentuk pada abad ke-19, dengan simbol-simbol nasional serta adanya kesamaan nilai-nilai budaya dan sejarah di kepulauan tersebut.[468]
Hari libur di Filipina dapat diklasifikasikan sebagai hari libur biasa dan hari libur khusus.[484] Festival-festival umum dilakukan di berbagai kota dan desa dan umumnya bersifat keagamaan (biasanya untuk menghormati santo pelindung).[485][486] Festival-festival yang terkenal di Filipina meliputi Ati-Atihan,[487]Dinagyang,[488]Moriones,[489]Sinulog,[490] dan Flores de Mayo.[491] Negara ini juga dikenal memulai musim Natal paling awal, yakni pada tanggal 1 September.[492]: 149 Selain Natal, Pekan Suci juga merupakan perayaan yang paling diantisipasi oleh masyarakat, khususnya umat Kristen, Filipina, dan diikuti secara khidmat.[492][493]: 149
Nilai
Pantung di Iriga menggambarkan gestur mano pocode: fil is deprecated .
Nilai-nilai Filipina merupakan jenis budaya yang berakar pada aliansi pribadi, terutama yang didasarkan pada hubungan kekerabatan, kewajiban, persahabatan, agama (terutama Kristen), dan perdagangan.[61]: 41 Nilai-nilai tersebut berpusat pada keharmonisan sosial melalui pakikisama (persahabatan),[494]: 74 yang terutama dimotivasi oleh keinginan untuk diterima oleh suatu kelompok sosial.[483][495][496]: 47 Timbal balik melalui utang na loob (utang budi) merupakan ciri budaya Filipina yang signifikan, dan utang budi yang terinternalisasi tidak akan pernah dapat dilunasi sepenuhnya.[494]: 76[497] Sanksi utama atas penyimpangan dari nilai-nilai ini adalah konsep hiya (rasa malu)[498] dan hilangnya amor propio (harga diri).[496]
Keluarga merupakan pusat masyarakat Filipina, di mana norma-norma yang berpusat pada keluarga seperti kesetiaan, menjaga hubungan dekat, dan merawat orang tua yang lanjut usia telah tertanam di dalam masyarakat Filipina.[499][500] Rasa hormat terhadap otoritas dan orang tua dihargai, dan ditunjukkan dengan gestur seperti mano dan gelar kehormatan seperti po, opo, dan kuya (khusus untuk kakak laki-laki) atau ate (khusus untuk kakak perempuan).[501][502] Nilai-nilai Filipina lainnya adalah optimisme memikirkan masa depan, pesimisme tentang masa kini, kepedulian terhadap orang lain, persahabatan, kesantunan, religiusitas, rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain (terutama wanita), dan integritas.[503]
Tinikling, tarian bambu tradisional khas Filipina, menampilkan penari yang bergerak mengikuti gerakan burung tikling yang menghindari jebakan petani.[504]
Tari rakyat di Filipina umumnya berupa tarian yang dipengaruhi adat tradisional atau tarian yang dipengaruhi budaya Spanyol.[157]: 173 Salah satu tarian yang dipengaruhi budaya Spanyol adalah Cariñosa, yang secara tidak resmi menjadi tarian nasional negara tersebut.[505] Meskipun tarian tradisional tidak banyak dimainkan kembali pada masa kolonial Spanyol,[506]: 77 tarian tersebut mulai dipopulerkan kembali pada tahun 1920-an.[506]: 82 Berbagai tarian tradisional tersebut termasuk Tininkling dan Singkil, yang mengikuti ritme tiang bambu.[507][508] Tarian modern di Filipina bervariasi, mulai dari balet yang halus[509] hingga tari kejang jalanan.[510][511]
Adapun musik tradisional seperti musik rondalla (yang menggunakan instrumen tradisional sejenis mandolin), populer bahkan selama masa kolonial Spanyol.[113]: 327[512] Musik yang dipengaruhi budaya Spanyol juga populer di Filipina, seperti penerapan band yang menggunakan bandurria.[512][513] Genre musik kundiman berkembang selama periode 1920-an dan 1930-an.[514] Masa kolonial Amerika Serikat memperkenalkan banyak orang Filipina dengan budayanya dan musik pop.[514]Musik rok diperkenalkan di Filipina pada tahun 1960-an, yang berkembang menjadi varian genrenya sendiri, yakni rok Filipina (atau Pinoy rock), yang mencakup pop rok, rok alternatif, heavy metal, punk rok, new wave, ska, dan reggae. Pada masa darurat militer tahun 1970-an, skena musik di Filipina menghasilkan grup musik dan artis rok rakyat Filipina, yang berada di garis depan demonstrasi politik menentang Ferdinand Marcos.[515]: 38–41 Dekade tersebut juga menyaksikan lahirnya Manila sound dan Original Pilipino Music (OPM).[44][516]: 171Hip-hop Filipina, yang mulai terbentuk sejak tahun 1979, memasuki arus utama musik pada tahun 1990.[515][517]: 38–41 Pada masa itu juga, karaoke menjadi populer di negara tersebut.[518] Pada tahun 2010 hingga 2020, Pinoy pop muncul yang mendapat pengaruh dari K-pop dan J-pop.[519]
Teater drama produksi lokal mulai berkembang pada masa kolonial di akhir tahun 1870-an dan meningkat pesat sejak saat itu. Pengaruh budaya Spanyol pada masa itu memperkenalkan teatrikal zarzuela (yang diriingi musik)[520] dan comedia (yang diiringi tarian). Drama-drama tersebut menjadi populer di seluruh negeri[506]: 69–70 dan ditulis dalam berbagai bahasa lokal.[520] Sementara itu, pengaruh budaya Amerika Serikat memperkenalkan balet dan vaudeville.[506]: 69–70 Teater realisme menjadi dominan pada abad ke-20, dengan drama-drama yang berfokus pada isu-isu politik dan sosial masa kini.[520]
Gereja Paoay di Ilokos Utara merupakan salah satu gereja dengan arsitektur Barok Gempa. Gereja ini merupakan satu dari empat gereja Barok lainnya yang masuk dalam Harta Budaya Nasional dan Situs Warisan Dunia UNESCO.[521]
Arsitektur tradisional Filipina memiliki dua model utama, yakni model penduduk asli bahay kubo dan bahay na bato yang dikembangakan pada era Spanyol.[146]: 438–444 Beberapa wilayah, seperti Batanes, memiliki arsitektur yang berbeda dan menyesuaikan diri dengan iklim. Alhasil, batu kapur umum digunakan di wulayah tersebut sebagai bahan bangunan dan dibangun sedemikian rupa untuk menahan topan.[530][531]
Penjajahan Spanyol meninggalkan desain arsitekturnya yang dapat dilihat di alun-alun kota atau plaza mayor, tetapi banyak di antaranya rusak atau hancur akibat Perang Dunia II.[36][475] Beberapa gereja Katolik di Filipina dibangun dengan gaya yang unik dengan memodifikasi gaya Barok sehingga tahan gempa bumi, menjadikan gaya arsitektur yang dikenal sebagai Barok Gempa.[532][533] Empat Gereja Barok dengan gaya tersebut telah didaftarkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO secara kolektif.[521] Selain itu, Spanyol juga meninggalkan benteng kolonial (fuerza) di berbagai wilayah di Filipina, yang utamanya dirancang oleh arsitek misionaris dan dibangun oleh tukang batu lokal.[534] Salah satu kota yang sangat mencirikan arsitektur Spanyol dapat ditemukan di Vigan, Illocos Selatan, yang memiliki rumah dan bangun dengan gaya Hispanik.[535]
Adapun masa kolonial Amerika Serikat memperkenalkan gaya arsitektur baru, khususnya dalam pembangunan gedung-gedung pemerintah dan teater Art Deco.[536] Pada masa tersebut, perencanaan kota dilakukan dengan menggunakan desain arsitektur dan rencana induk yang dikelola oleh Daniel Burnham, terutama di Manila dan Baguio.[537][538] Bagian dari rencana tersebut adalah pembangunan gedung-gedung pemerintahan yang mengingatkan pada arsitektur Yunani Kuno dan Neoklasik.[533][536] Selain itu, masa kolonial Amerika Serikat juga menggambungkan gaya arsitekturnya dengan gaya Spanyol, seperti yang dapat ditemukan di Calle Real, Iloilo.[539]
Hidangan tradisional Filipina berkembang dari akar hidangan Melayu-Polinesia sejak abad ke-16. Hidangan asal Filipina umumnya dipengaruhi oleh gaya hidangan Hispanik, Tionghoa, dan Amerika.[540][541] Orang Filipina cenderung menyukai makanan dengan rasa yang kuat,[542] terutama kombinasi rasa manis, asin, dan asam.[543]: 88 Beberapa daerah memiliki hidangan yang bervariasi. Sebagai contoh, meski nasi umumnya merupakan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat,[544]singkong lebih diminati, terutama di wilayah Mindanao.[545][546] Salah satu hidangan yang terkenal di Filipina adalah Adobo, yang menjadi hidangan nasional tidak resmi.[547] Hidangan populer lainnya termasuk lechón, kare-kare, sinigang,[548]pancit, lumpia, dan arroz caldo.[549][550][551] Hidangan penutup Filipina umumnya berupa kakanin (kue beras) yang mencakup puto, suman, dan bibingka,[552][553] sementara bahan-bahan yang digunakan untuk membuat hidangan tersebut mencakup calamansi,[554]ube,[555] dan pili.[556][557] Bumbu-bumbu khas Filipina seperti bagoong dan toyo memberikan cita rasa yang unik bagi negara tersebut.[543][549]: 73
Tidak seperti negara Asia Timur dan Tenggara lainnya, kebanyakan masyarakat Filipina tidak menggunakan sumpit sebagai alat makan, melainkan sendok dan garpu.[558] Di daerah pedesaan, masyarakat Filipina umum menggunakan tangan dan jari untuk memakan sesuatu,[559] tradisi yang dikenal sebagai kamayan.[560]: 266–268, 277 Tradisi tersebut kemudian mulai dipopulerkan seiring dengan dikenalnya hidangan tradisional pada masyarakat perkotaan maupun turis mancanegara.[561][562]
Adapun sastra rakyat di Filipina secara umum tidak terpengaruh oleh pengaruh kolonial hingga abad ke-19. Sebagian besar karya sastra cetak selama masa kolonial sendiri bersifat religius, meskipun kaum elit Filipina kemudian belajar menulis sastra nasionalis dalam bahasa Spanyol.[157]: 59–62 Ketika Amerika Serikat menduduki Filipina, bahasa Inggris menjadi bahasa dominan dalam sastra Filipina.[157]: 65–66 Masa kolonial tersebut juga menumbuhkan industri komik lokal yang mulai berkembang pesat pada tahun 1920-an hingga 1970-an.[569][570] Pada akhir 1960-an, selama masa kepresidenan Ferdinand Marcos, sastra Filipina dipengaruhi oleh aktivisme politik. Pada masa itu, banyak penulis dan penyair lokal menggunakan bahasa Tagalog dalam karyanya.[157]: 69–71
Sara Duterte, selaku Wakil Wali Kota Davao, diwawancarai oleh kru ABS-CBN, 2009.
Media Filipina umumnya menggunakan bahasa Filipino dan bahasa Inggris, meski media penyiaran telah beralih ke bahasa Filipina.[408] Media penyiaran seperti acara televisi, iklan, dan film diatur oleh Dewan Peninjauan dan Klasifikasi Film dan Televisi.[577][578] Sebagian besar masyarakat Filipina memperoleh berita dan informasi dari televisi dan internet[579] (khususnya media sosial).[580] Jaringan televisi siaran milik negara adalah People's Television Network (PTV).[581] Sementara itu, jaringan televisi yang dominan di negara tersebut adalah ABS-CBN (sebelum penolakan perpanjangan waralaba oleh pemerintah pada bulan Mei 2020)[582] dan GMA, keduanya menyediakan siaran gratis.[583]Telenovela Filipina, dikenal dengan sebutan teleserye, sebagian besar diproduksi oleh ABC-CBS dan GMA dan disiarkan di negara lain.[584][585]
Pembuatan film lokal telah dimulai sejak tahun 1919, dengan dirilisnya film Dalagan Bukid, yang disutradarai oleh José Nepomuceno.[87][586]: 8 Produksi film masih kecil selama era film bisu, tetapi mulai meningkat pada era film bersuara sejak tahun 1933. Tahun masa akhir Perang Dunia II hingga tahun 1960-an dianggap sebagai masa keemasan perfilman Filipina. Sementara itu, dekade 1962–1972 menyaksikan penurunan kualitas film, meski industri film komersial masih berkembang hingga tahun 1980-an.[87] Berbagai film produksi Filipina yang mendapat pujian kritis antara lain Himala dan Oro, Plata, Mata, yang dirilis pada tahun 1982.[587][588] Sejak pergantian abad ke-21, industri film negara ini berjuang untuk pamor dengan film-film asing beranggaran besar,[589] terutama film-film Hollywood.[590][591] Masa tersebut juga menyaksikan perkembangan film seni dan film indie, yang telah sukses baik di dalam negarai maupun di mancanegara.[592][593][594]
Filipina memiliki banyak stasiun radio dan surat kabar.[583] Surat kabar lembar lebar berbahasa Inggris diminati kalangan eksekutif, profesional, dan pelajar,[90]: 233–251 sementara tabloid murah berbahasa Tagalog populer bagi kalangan umum, terutama pada tahun 1990-an.[595] Meski demikian, jumlah pembaca surat kabar kian menurun seiring dengan diminatinya situs berita daring dan media sosial.[580][596] Tiga surat kabar teratas, berdasarkan jumlah pembaca dan kredibilitas nasional,[90]: 233 adalah Philippine Daily Inquirer, Manila Bulletin, dan The Philippine Star.[597][598] Meskipun kebebasan pers dilindungi oleh konstitusi,[599] negara ini terdaftar sebagai negara ketujuh paling berbahaya bagi jurnalis pada tahun 2022 oleh Komite Perlindungan Jurnalis, yang mencatat 13 pembunuhan jurnalis di negara tersebut yang saat ini berlum terpecahkan.[600]
Penduduk Filipina merupakan pengguna internet teratas di dunia.[601] Pada awal tahun 2021, 67 persen penduduk Filipina (sekitar 73,91 juta) memiliki akses ke internet, di mana mayoritas mengaksesnya menggunakan ponsel cerdas.[602]
^ abLegarda, Benito Jr. (2001). "Cultural Landmarks and their Interactions with Economic Factors in the Second Millennium in the Philippines". Kinaadman (Wisdom): A Journal of the Southern Philippines. 23. Universitas Xavier – Ateneo de Cagayan]]: 40.
^Fox, Robert B. (2015). "The Archaeological Record of Chinese Influences in the Philippines". Dalam Chu, Richard T. (ed.). More Tsinoy Than We Admit: Chinese-Filipino Interactions Over the Centuries. Kota Quezon: Vibal Foundation, Inc. hlm. 10–13. ISBN978-971-97-0682-3.
^San Buena Ventura, Fr. Pedro de (1613). de Silva, Juan (Don.) (ed.). Vocabulario de lengua tagala: El romance castellano puesto primero (dalam bahasa Tagalog and Spanyol Modern Awal). La Noble Villa de Pila. hlm. 545. Sangley) Langlang (pc) anſi llamauan los viejos deſtos [a los] ſangleyes cuando venian [a tratar] con ellos [Sangley) Langlang (pc) ini adalah sebutan bagi para tetua Sangleyes ketika mereka datang [untuk berurusan] dengan mereka]{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
^Bankoff, Greg (1 Januari 2007). "Storms of history: Water, hazard and society in the Philippines: 1565-1930". Dalam Boomgaard, Peter (ed.). A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian Histories. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. Vol. 240. Leiden, Netherlands: KITLV Press. hlm. 153–184. ISBN978-90-04-25401-5. JSTOR10.1163/j.ctt1w76vd0.9.
^Wing, J.T. (2015). Roots of Empire: Forests and State Power in Early Modern Spain, c.1500–1750. Brill's Series in the History of the Environment. Brill. hlm. 109. ISBN978-90-04-26137-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Januari 2024. Diakses tanggal 3 Februari 2024. At the time of Miguel López de Legazpi's voyage in 1564-5, the Philippines were not a unified polity or nation. [Pada saat pelayaran Miguel López de Legazpi tahun 1564-5, Filipina belum menjadi negara atau pemerintahan yang bersatu.]
^ abcHalili, Maria Christine N. (2004). Philippine History (Edisi First). Manila, Filipina: REX Book Store, Inc. ISBN978-971-23-3934-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2023. Diakses tanggal 23 Mei 2020.
^Kane, Herb Kawainui (1996). "The Manila Galleons". Dalam Bob Dye (ed.). Hawaiʻ Chronicles: Island History from the Pages of Honolulu Magazine. Vol. I. Honolulu, Hawaii: University of Hawaii Press. hlm. 25–32. ISBN978-0-8248-1829-6.
^ abcdDolan, Ronald E., ed. (1991). Philippines. Country Studies/Area Handbook Series. Washington, D.C.: GPO untuk Perpustakaan Kongres. Diarsipkan dari asli tanggal 9 November 2005. Diakses tanggal 13 Februari 2023 – via Country Studies.
^Abinales, Patricio N. (8 Juli 2022). Modern Philippines. Understanding Modern Nations (dalam bahasa Inggris). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. ISBN978-1-4408-6005-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Februari 2023. Diakses tanggal 12 Februari 2023.
^Novesteras, Arsenio P. (2002). Isang Lahi... Isang Mithi [Satu Bangsa... Satu Keinginan] (dalam bahasa Filipino). Makati, Filipina: Salesiana Publishers, Inc. hlm. 28, 137, 184. ISBN971-522-427-X.
^ abTucker, Spencer, ed. (20 Mei 2009). "Philippine-American War". The Encyclopedia of the Spanish-American and Philippine-American Wars: A Political, Social, and Military History (dalam bahasa Inggris). Vol. I: A–L (Edisi Illustrated). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 478. ISBN978-1-85109-951-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2023. Diakses tanggal 25 Juli 2021.
^Cocks, Catherine; Holloran, Peter C.; Lessoff, Alan (13 Maret 2009). "Philippine-American War (1899–1902)". Historical Dictionary of the Progressive Era. Historical Dictionaries of U.S. Historical Eras. Vol. 12. Lanham, Md.: The Scarecrow Press. hlm. 332. ISBN978-0-8108-6293-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Februari 2023. Diakses tanggal 27 Desember 2022.
^Nadeau, Kathleen (3 April 2020). The History of the Philippines. The Greenwood Histories of the Modern Nations (dalam bahasa Inggris) (Edisi Second). Santa Barbara, Calif.: Greenwood. hlm. 76. ISBN978-1-4408-7359-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Oktober 2023. Diakses tanggal 12 Oktober 2023.
^Rankin, Karl L. (25 November 1943). "Introduction". Document 984 (Report). Foreign Relations of the United States: Diplomatic Papers, 1943, The British Commonwealth, Eastern Europe, the Far East. Vol. III. Office of the Historian. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Juni 2017. Diakses tanggal 16 Februari 2021.
^Martin, Gus, ed. (15 Juni 2011). "New People's Army". The SAGE Encyclopedia of Terrorism (dalam bahasa Inggris) (Edisi Second). Thousand Oaks, Calif.: SAGE Publications. hlm. 427. ISBN978-1-4522-6638-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 April 2023. Diakses tanggal 17 Maret 2023.
^Rinard Hinga, Bethany D. (17 Maret 2015). "Philippines". Ring of Fire: An Encyclopedia of the Pacific Rim's Earthquakes, Tsunamis, and Volcanoes. Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 249. ISBN978-1-61069-297-7.
^Ani, Princess Alma B.; Castillo, Monica B. (18 Maret 2020). "Revisiting the State of Philippine Biodiversity And The Legislation on Access and Benefit Sharing". FFTC Agricultural Policy Platform (FFTC-AP) (dalam bahasa Inggris). Taipei: Food and Fertilizer Technology Center for the Asian and Pacific Region. The Philippine Biodiversity. Diarsipkan dari asli tanggal 14 November 2020. Diakses tanggal 20 Maret 2023.
^Pangalangan, Raul C., ed. (Maret 2001). The Philippine Judicial System(PDF). Asian Law Series. Chiba, Jepang: Institute of Developing Economies. hlm. 6, 39. OCLC862953657. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 5 Maret 2021.
^The Philippines Corruption Report. GAN Integrity (Report). May 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Agustus 2022. Diakses tanggal 7 Agustus, 2020. {{cite report}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
^Tucker, Spencer C., ed. (May 20, 2011). "Philippines". The Encyclopedia of the Vietnam War: A Political, Social, and Military History (dalam bahasa Inggris). Vol. I: A–G (Edisi Second). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 907. ISBN978-1-85109-961-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Juli 2023. Diakses tanggal 19 Maret 2023.
^Cronin, Patrick M. (September 1993). "Rethinking Asian Alliances"(PDF). Joint Force Quarterly (dalam bahasa Inggris) (2). Institute for National Strategic Studies, Universitas Pertahanan Nasional: 121. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 10 April 2014. Diakses tanggal 14 April 2023.
^Sevilla, Henelito A. Jr. (Juni 2011). "Middle East Security Issues and Implications for the Philippines". Indian Journal of Asian Affairs. 24 (1/2): 49–61. ISSN0970-6402. JSTOR41950511.
^Joyner, Christopher C. (1999). "The Spratly Islands Dispute in the South China Sea: Problems, Policies, and Prospects for Diplomatic Accommodation". Dalam Singh, Ranjeet K. (ed.). Investigating Confidence-Building Measures in the Asia-Pacific Region (Report). Stimson Center. hlm. 56. JSTORresrep10935.8.
^Tusalem, Rollin F (9 April 2019). "Imperial Manila: How institutions and political geography disadvantage Philippine provinces". Asian Journal of Comparative Politics. 5 (3). SAGE Publications Ltd: 8–9, 11–12. doi:10.1177/2057891119841441. S2CID159099808.
^de Villiers, Bertus (2015). "Special regional autonomy in a unitary system – preliminary observations on the case of the Bangsomoro homeland in the Philippines". Verfassung und Recht in Übersee / Law and Politics in Africa, Asia and Latin America. 48 (2). Nomos-Verlagsgesellschaft: 205–226. doi:10.5771/0506-7286-2015-2-205. ISSN0506-7286. JSTOR26160114.
^Cumo, Christopher, ed. (25 April 2013). "Coconut". Encyclopedia of Cultivated Plants: From Acacia to Zinnia (dalam bahasa Inggris). Vol. I: A–F. Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 298. ISBN978-1-59884-775-8.
^Elliott, Vittoria; Deck, Andrew (2 November 2020). "Duterte, Dito, and the Duopoly". Rest of World. Diarsipkan dari asli tanggal 2 November 2020. Diakses tanggal 23 Februari 2023.
^ abFuntecha, Henry F. (2000). "The history and culture of boats and boat-building in the Western Visayas". Philippine Quarterly of Culture and Society. 28 (2). University of San Carlos: 111–132. ISSN0115-0243. JSTOR29792457.
^GCC Annual Review 2021(PDF) (Report). The Green Certificate Company Limited. hlm. 16. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal February 19, 2023. Diakses tanggal February 19, 2023.
^Demographia World Urban Areas(PDF) (Report) (Edisi 18th Annual). Demographia. July 2022. hlm. 23. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal February 3, 2023. Diakses tanggal February 8, 2023.
^ abUS-PH alliance 'stronger than ever'—envoy By Raymund Antonio (Manila Bulletin)"Beyond the economic and defense partnership, the US and Philippines maintain "meaningful people-to-people ties," which Carlson described is "the foundation of everything we do together." Some four million Filipinos and Filipino-Americans call the United States their home, while more than 750,000 US citizens are currently living in the Philippines, she noted."
^Tamir, Christine; Connaughton, Aidan; Salazar, Ariana Monique (July 20, 2020). The Global God Divide (Report). Pew Research Center. Diarsipkan dari asli tanggal July 22, 2020. Diakses tanggal February 18, 2023.
^Orange Health Consultants (April 2021). Health Care in the Philippines(PDF) (Report). Rotterdam, Netherlands: Netherlands Enterprise Agency (RVO). Organization of the health care system. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal October 17, 2021. Diakses tanggal March 17, 2023.
^Kent, Allen, ed. (February 26, 1987). "Asia, Libraries in". Encyclopedia of Library and Information Science (dalam bahasa Inggris). Vol. 42 – Supplement 7: The Albert I Royal Library to The United Nations Bibliographic Information System (UNBIS) (Edisi 1st). New York: Marcel Dekker. hlm. 74. ISBN978-0-8247-2042-1.
^Wu, Qiuchen; Bai, Bin; Zhu, Xiaolin (April 2019). "Technical and Vocational Education and Training in the Philippines: Development and Status Quo". Dalam Bai, Bin; Paryono (ed.). Vocational Education and Training in ASEAN Member States. Perspectives on Rethinking and Reforming Education. Singapore: Springer Nature. hlm. 155, 158. doi:10.1007/978-981-13-6617-8_7. ISBN978-981-13-6616-1. S2CID159328746.
^"About Us". Catholic Educational Association of the Philippines. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 3, 2023. Diakses tanggal March 24, 2024.
^Ness, Daniel; Lin, Chia-Ling, ed. (March 17, 2015). "Philippines". International Education: An Encyclopedia of Contemporary Issues and Systems (dalam bahasa Inggris). Vol. 1–2. Abingdon, Oxon, England: Routledge. hlm. 459. ISBN978-1-317-46751-9.
^Williams, Victoria R. (February 24, 2020). "Igorot". Indigenous Peoples: An Encyclopedia of Culture, History, and Threats to Survival (dalam bahasa Inggris) (Edisi Illustrated). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 473. ISBN978-1-4408-6118-5.
^Minahan, James B. (August 30, 2012). "Cordillerans". Ethnic Groups of South Asia and the Pacific: An Encyclopedia. Ethnic Groups of the World (dalam bahasa Inggris) (Edisi Illustrated). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. ISBN978-1-59884-660-7.
^"Chavacano". Ethnologue (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal November 16, 2018.
^Constantino, Renato; Constantino, Letizia R (1975). "Chapter X - Revolution and Nationhood". A history of the Philippines: from the Spanish colonization to the Second World War (dalam bahasa English). Monthly Review Press. hlm. 146. ISBN978-0-85345-394-9. OCLC2401681. Coming from families that had benefited from the economic development of the country, these young men were able to take advantage of the educational opportunities that a liberalized Spanish colonial policy offered at the time.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
^Goldsmith, Melissa Ursula Dawn; Fonseca, Anthony J., ed. (December 2018). "The Philippines". Hip Hop around the World: An Encyclopedia. Vol. I and II: A–Z (Edisi Illustrated). Santa Barbara, Calif.: Greenwood. hlm. 552–553. ISBN978-0-313-35759-6.
^Santiago, Luciano P.R. (1991). DAMIAN DOMINGO AND THE FIRST PHILIPPINE ART ACADEMY (1821–1834) (dalam bahasa English). University of San Carlos Publications.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
^Javellana, Rene B. (2020). The Philippine Colonial Tradition of Sacred Art. National Museum of the Philippines and Bangko Sentral ng Pilipinas. ISBN978-971-567-035-7.
^Roufs, Timothy G.; Roufs, Kathleen Smyth (July 29, 2014). "The Philippines". Sweet Treats around the World: An Encyclopedia of Food and Culture (dalam bahasa Inggris). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 267–268. ISBN978-1-61069-221-2.
^Zhao, Xiaojian; Park, Edward J. W., ed. (November 26, 2013). "Filipino Cuisine in the United States". Asian Americans: An Encyclopedia of Social, Cultural, Economic, and Political History (dalam bahasa Inggris). Vol. I: A–F. Santa Barbara, Calif.: Greenwood. hlm. 409. ISBN978-1-59884-240-1.
^De Villa, Bianca Denise M.; Domingo, Thea Mari M.; Ramirez, Rhema Jenica C.; Mercado, Jame Monren T. (June 2022). "Explicating the culinary heritage significance of Filipino kakanin using bibliometrics (1934–2018)". International Journal of Gastronomy and Food Science. 28 100522. doi:10.1016/j.ijgfs.2022.100522.
^Tarver, H. Micheal; Slape, Emily, ed. (July 25, 2016). "Philippine Revolution (1896–1898)". The Spanish Empire: A Historical Encyclopedia. Empires of the World (dalam bahasa Inggris). Vol. I (Edisi Illustrated). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO. hlm. 108. ISBN978-1-61069-422-3.
^Bane, Theresa (May 22, 2016). "Sarimanok". Encyclopedia of Beasts and Monsters in Myth, Legend and Folklore (dalam bahasa Inggris). Jefferson, N.C.: McFarland. hlm. 279. ISBN978-1-4766-2268-2.
^"PTV 4". Media Ownership Monitor. MOM Team, VERA Files, Reporters Without Borders, Global Media Registry. Diarsipkan dari asli tanggal December 7, 2022. Diakses tanggal February 28, 2023.
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.