PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (berbisnis dengan nama KBank Indonesia) adalah sebuah bank swasta yang berkantor pusat di Jakarta dan mayoritas sahamnya dimiliki…
| KBank Indonesia | |
Nama sebelumnya | PT Bank Maspion Indonesia Tbk (1989-2026) |
Jenis perusahaan | Perusahaan publik |
| Kode emiten | BEI: BMAS |
| Industri | Jasa keuangan |
| Didirikan | 6 November 1989 di Surabaya |
| Pendiri | Grup Maspion |
| Kantor pusat | Pacific Century Place, SCBD Lot. 10 Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta |
Wilayah operasi | Indonesia |
Tokoh kunci | Kasemsri Charoensiddhi (Direktur Utama) Chat Luangarpa (Komisaris Utama) |
| Produk | |
| Pendapatan | Rp 1,48 triliun (2025)[1] |
| Rp 31,81 miliar (2025)[1] | |
| Total aset | Rp 22,41 triliun (2025)[1] |
| Total ekuitas | Rp 6,50 triliun (2025)[1] |
| Pemilik | Kasikornbank (89,48%)[2] |
Karyawan | 834 (2025)[1] |
| Situs web | www |
PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (berbisnis dengan nama KBank Indonesia) adalah sebuah bank swasta yang berkantor pusat di Jakarta dan mayoritas sahamnya dimiliki Bank Petani Thailand (Kasikornbank), sebuah perusahaan perbankan terkemuka di Thailand. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank ini memiliki 13 kantor cabang, 23 kantor cabang pembantu, 6 kantor fungsional, dan 51 mesin ATM yang terutama terletak di Pulau Jawa.[1][3]
Bank ini didirikan pada 6 November 1989, dan setahun kemudian, bank ini mendapat izin untuk beroperasi sebagai sebuah bank umum, tepatnya di bulan April 1990. Mulai beroparasi secara efektif sejak 31 Agustus 1990, Bank Maspion (awalnya Maspion Bank) saat itu dibantu oleh 20 karyawan dan bermodal awal Rp 33 miliar. Seiring perkembangannya, di tanggal 28 Juli 1995, bank ini ditetapkan sebagai sebuah bank devisa.[5] Pada 11 Juli 2013, bank ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.[1][3][6] Sesuai namanya, Bank Maspion awalnya dikuasai penuh kepemilikannya oleh Maspion, konglomerasi milik keluarga Alim Markus yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur.
Belakangan, Maspion melepas sejumlah sahamnya kepada bank asal Thailand, Kasikornbank (KBank). Mulanya bank tersebut hanya menggenggam 9,99% saham di bank ini, yang dilakukan setelah penandatanganan kesepakatan bernilai Rp 266 miliar pada 28 Agustus 2017. Masuknya Kasikorn saat itu dimaksudkan untuk meningkatkan layanan investasi dan pembiayaan perdagangan, UMKM dan perbankan digital bagi kedua pihak, serta membuka jalan bagi KBank untuk melayani perdagangan bilateral dan investasi Thailand-Indonesia yang ditargetkan bisa mencapai US$20 miliar dalam 3 tahun.[7]
Seiring kebutuhan permodalan dan membantu peningkatan kinerja Bank Maspion,[8] Kasikorn mengakuisisi saham lagi dalam jumlah yang lebih besar. Pada 31 Oktober 2022, mereka mengakuisisi 30% saham Bank Maspion, meningkatkan pemilikannya menjadi 40% dalam transaksi bernilai Rp 333 miliar.[9][10] Melalui rights issue pada 7 Desember 2022, melalui anak usahanya Kasikorn Vision Financial Company Pte. Ltd., Kasikorn kemudian menjadikan dirinya sebagai pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 62,3%.[11] Awalnya Maspion Grup masih memegang saham minoritas yang signifikan, yaitu sekitar 30% walaupun tidak lagi menjadi pengendali. Pada 15 November 2023, saham Kasikornbank naik menjadi 84,55% dalam transaksi bernilai Rp 2,26 triliun, sehingga saham keluarga Alim Markus semakin mengecil menjadi di bawah 15%.[12] Tercatat akuisisi Kasikornbank pada Bank Maspion ini merupakan akuisisi pertama bank tersebut di luar negeri, dan diharapkan dapat membantu Bank Maspion berkembang khususnya dalam menjadi bank digital.[13][14]
Belakangan, antara Kasikorn dan Maspion sempat terjadi sengketa yang sempat berbuah gugatan ke PN Surabaya. Keluarga Alim Markus menuduh bank yang dulu dikuasainya ini tidak menaati hasil RUPSLB Juni 2023 maupun adanya manipulasi dokumen yang dikeluarkan pada tahun yang sama. Dalam gugatannya, mereka meminta struktur Bank Maspion dikembalikan seperti pada Januari 2023 ditambah ganti rugi.[15] Namun, akhirnya Kasikorn dan Maspion memutuskan berdamai, yang disusul pelepasan saham Bank Maspion oleh keluarga Alim Markus pada Agustus dan September 2025. Dengan transaksi ini, kini keluarga pendiri/Grup Maspion hanya memiliki 4,9% saham, yang beralih ke pemegang saham publik sehingga ketentuan free float terpenuhi. Transaksi ini juga mengukuhkan posisi Kasikornbank sebagai pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan hampir 90%.[16]
Sejak akuisisi saham mayoritas itu, identitas Bank Maspion perlahan-lahan disesuaikan dengan identitas Kasikornbank, seperti dari penggunaan warna hijau yang lebih dominan. Per awal 2024, Kasikorn memindahkan kantor pusat Bank Maspion ke gedung pencakar langit Pakuwon Tower, Tunjungan Plaza di Surabaya. Perpindahan kantor pusat ini diklaim mampu mendorong perubahan berkelanjutan, memperkuat daya saing di pasar yang berkembang, serta meningkatkan kemudahan akses bagi pemangku kepentingan.[1] Akhirnya, per 13 Juli 2026, identitas Maspion resmi ditanggalkan dengan kini mengikuti nama pemiliknya dari Bank Maspion menjadi KBank Indonesia, yang diikuti perubahan nama legal dari PT Bank Maspion Indonesia Tbk menjadi PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk.[17] Perubahan nama itu disebutkan menjadi langkah penguatan identitas korporasi agar selaras dengan Kasikornbank.[18] Lewat perubahan ini, KBank Indonesia memperkuat posisinya sebagai bank yang menghubungkan kebutuhan bisnis di Indonesia dengan jaringan regional Kasikornbank, sehingga dapat membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha yang memiliki aktivitas bisnis lintas negara, khususnya di kawasan ASEAN.[19]
Adapun identitas baru ini resmi diperkenalkan pada 4 Agustus 2026, seiring kunjungan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Indonesia.[19] Tidak lama setelah perubahan nama itu, KBank Indonesia kembali memindahkan kantor pusatnya dari Surabaya ke Jakarta, dengan sejak 31 Agustus 2026 berpusat di Sudirman Central Business District (SCBD).[20]
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.