Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (April 2025) |
| Masjid Darülhadis | |
|---|---|
| Agama | |
| Afiliasi | Islam |
| Lokasi | |
| Lokasi | Edirne, Turki |
| Arsitektur | |
| Arsitek | Koçu Ahmet |
| Tipe | Masjid |
| Dibangun oleh | Sultan Murad II |
| Didirikan | 1434 |
Masjid Darülhadis adalah sebuah masjid yang terletak di Edirne, Turki. Masjid ini dibangun oleh Sultan Murad II pada tahun 1435 di sepanjang Sungai Tunca, di Jalan Darül Hadis, dekat dengan Sinagoga Agung Edirne.[1] Masjid ini berjarak sekitar 1,5 km ke timur laut dari Masjid Selimiye, salah satu masjid utama di Edirne. Bangunannya dirancang dan berfungsi sebagai masjid sekaligus madrasah. Selama Perang Balkan, menara masjid mengalami kerusakan akibat tembakan artileri oleh pasukan Bulgaria. Di sekitar masjid ini juga terdapat makam putra Sultan Murad II, yaitu Sultan Mustafa III dan Sultan Ahmed III.[2]
Awalnya, bangunan ini direncanakan sebagai darülhadis, yakni sekolah yang khusus mengajarkan hadis. Namun, Sultan Murad II, yang menjadi pelindung utama proyek ini, mengubah rencananya dan meminta arsiteknya, Koçu Ahmet, untuk merancang ulang bangunan tersebut menjadi sebuah masjid.[3] Perubahan rencana ini bukan kali pertama dilakukan oleh Murad II, mengingat Masjid Muradiye juga awalnya dirancang sebagai lodge bagi kaum darwis sebelum diubah menjadi masjid.[4]
Masjid Darülhadis dibangun pada tahun 1434 sebagai bagian dari kompleks keagamaan yang lebih besar. Kompleks ini mencakup sebuah madrasah, pemandian umum (hammam), penginapan, serta dapur umum yang melayani masyarakat sekitar. Namun, kompleks ini mengalami berbagai kerusakan seiring berjalannya waktu. Kebakaran pada tahun 1903 menghancurkan sebagian besar madrasah, sementara dalam Perang Balkan, masjid dan bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan akibat pemboman oleh tentara Bulgaria. Penginapan, serambi dan menara masjid ikut hancur dalam serangan tersebut. Setelah itu, masjid dibangun kembali, termasuk menaranya yang memiliki satu balkon.[5][6]
Masjid ini memiliki serambi dengan sebelas ruang lengkung, lima di bagian depan dan enam di sisi-sisinya. Bagian depan serambi didukung oleh enam pilar marmer asli, sementara bagian samping ditopang oleh tiang kayu. Ruang tengah serambi, yang berada tepat di depan pintu masuk utama, dibuat lebih tinggi dibandingkan bagian lainnya. Masjid Darülhadis dibangun dengan denah persegi panjang dengan ukuran 15,4 × 9,85 meter. Material utama bangunannya adalah batu potong, sementara bagian atas lengkungan tengah menggunakan bata. Interior masjid terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu[7] ruang depan, yang terdiri dari tiga kamar dan ditutupi dengan kubah berbentuk elips, dan ruang salat utama, yang berbentuk persegi dan ditutupi oleh kubah besar yang disangga oleh pendentif.
Di sekitar masjid terdapat taman, serta dua makam bersejarah di bagian belakangnya:[8]
Makam-makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi anggota keluarga sultan, termasuk Hasan dan Orhan, putra Sultan Murad II yang juga merupakan saudara dari Sultan Mehmed II (Mehmed Sang Penakluk). Selain itu, makam ini juga menjadi tempat pemakaman anak-anak Sultan Mustafa II, yaitu Hatice, Rukiye, Ümmügülsüm, dan Ahmed, serta permaisurinya, Alicenab Kadın, yang wafat pada tahun 1699 di Istana Edirne. Dua putra Sultan Ahmed III, yaitu Mehmed dan Selim, serta putrinya, Zeynep, juga dimakamkan di sini.[9][10]
Pemandian umum yang termasuk dalam kompleks Masjid Darülhadis terletak sekitar 650 meter di sebelah timur masjid, tepatnya di Kawasan Kaleiçi. Hammam ini dibangun oleh Sultan Murad II sebagai sumber pendapatan untuk menopang operasional masjid. Hammam ini memiliki desain ganda, yakni ruang pemandian terpisah untuk pria dan wanita, dan saat itu merupakan pemandian terbesar di Edirne. Saat ini, pemandian tersebut dikenal dengan nama Eski Tahtakale Hamamı. Hingga paruh kedua abad ke-20, pemandian ini masih beroperasi, tetapi kini telah ditutup dan kondisinya terbengkalai. Warga setempat sering menggunakannya sebagai tempat pembuangan sampah. Meskipun ada upaya pembersihan berkala oleh otoritas setempat, hingga kini belum ada upaya restorasi yang sistematis. Kubah-kubah hammam yang telah rusak masih dapat terlihat di antara atap-atap rumah di sepanjang Jalan Saraçlar.[9][11]
{{cite web}}:
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.