Share to: share facebook share twitter share wa share telegram print page

Fasies metamorfisme

Baca informasi selengkapnya disini:

Fasies Metamorfisme menurut suhu dan tekanan

Fasies metamorfisme merupakan suatu bentuk dari pengelompokan mineral-mineral metamorfik yang ada dan didasarkan pada tekanan dan suhu tertentu yang dicapai oleh mineral tersebut dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Sehingga dapat digambarkan bahwa batuan yang mengalami metamorfisme pada suhu dan tekanan yang sama akan menghasilkan satu jenis batuan metamorf yang memiliki karakteristik yang sama.
Konsep fasies metamorfisme pertama kali diperkenalkan oleh Eskola, tahun 1915. Fasies metamorfisme merupakan hasil dari proses isokimia metamorfisme (proses metamorfisme yang terjadi tanpa adanya penambahan unsur-unsur kimia baru), sehingga penentuan fasies metamorfisme pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua cara yakni menentukan mineral penyusun batuan atau dengan mempelajari reaksi kimia yang diperoleh dari kondisi tekanan dan temperatur tertentu dari batuan metamorf.
Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk akibat proses metamorfisme baik yang berasal dari batu beku ataupun batu sedimen. Proses metamorfisme dikontrol oleh suhu dan tekanan. Kedua faktor tersebut sangat berpengaruh besar pada proses metamorfisme karena kedua faktor ini merupakan faktor pengontrol utama. Perlu digaris bawahi pada proses metamorfisme ini bahwa tidak memasuki fase cair didalamnya. Tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan dan suhu yang berperan dalam proses metamorfisme serta pada fasies metamorfisme. Semakin tinggi derajat metamorfisme, maka struktur yang terbentuk pada batuan metamorf akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorf akan semakin kasar dan berukuran besar (kristalin).

Tipe Fasies Metamorfisme

Menurut Turner (1960), terdapat dua fasies metamorfisme utama yaitu fasies metamorfisme kontak dan fasies metamorfisme regional. Pada fasies metamorfisme kontak didasarkan pada penambahan suhu sehinga dapat disimpulkan pada fasies ini suhu merupakan faktor yang dominan.

Fasies Metamorfisme Kontak


Pada fasies metamorfisme kontak dibagi menjadi 4 fasies yaitu:

  1. Fasies hornfels albit-epidot,
  2. Fasies horfels hornblend
  3. Fasies hornfels piroksen
  4. Fasies sanadinit

Pada fasies hornfels epidot umumnya berkembang pada bagian paling luar dari suatu kontak sehingga proses rekristalisasi dan reaksi metamorfosa sering kali tidak sempurna. Pencirinya adalah adanya struktur relict atau sisa yang tidak stabil. Untuk fasies hornfels-hornblende memiliki ciri khsus yaitu tidak ditemukannya klorit. Fasies ini terbentuk pada tekanan yang rendah, tetapi dengan suhu yang sedikit lebih tinggi daripada fasies hornfels albit-epidot. Pada fasies hornfels piroksen, oleh Winkler (1967) disebut fasies hornfels K-feldspar – kordierit, karena kedua mineral tersebut muncul pertama kalinya di fasies ini. Fasies ini terbentuk pada suhu yang tinggi dan tekanan yang rendah. Mineral penciri dari fasies ini adalah orthopiroksen. Yang terakhir yaitu untuk fasies sanadinit adalah salah satu fasies langka karena kondisi pembentukannya memerlukan suhu yang sangat tinggi, tetapi tekanannya rendah. Oleh karenanya, kondisi ini hanya bisa dicapai di sekitar daerah metamorfisme kontak tetapi dengan syarat suhu tertentu. Karena jika suhu terlalu tinggi, maka batuan bisa melebur dan melewati fase cair.

Fasies Metamorfisme Regional

Sedangkan untuk fasies metamorfisme regional dibedakan menjadi:

  1. Fasies zeolit
  2. Fasies prehnite-pumpellyite
  3. Fasies green schist
  4. Fasies blue schist
  5. Fasies amfibolit
  6. Fasies granulit
  7. Fasies eklogit

Fasies ini meliputi daerah yang penyebarannya sangat luas dan dalam suatu sabuk pegunungan (orogenic belt). Pada batas diagenesa dan metamorfisme regional, akan terjadi demineralisasi lempung, kristalisasi mineral kuarsa dan K-feldspar serta terombaknya mineral temperatur tinggi dan terjadinya pengendapan karbonat. Bila perubahan ini terjadi pada butiran yang kasar, maka akan memasuki metamorfisme dengan fasies zeolit. Kemudian dilanjutkan dengan fasies prehnite-pumpellyite yang berasal dari kandungan dua mineral dominan yang muncul berupa mineral prehnite (Ca-Al-phyllosilicate) dan pumpellyite (sorosilicate). Fasies ini terbentuk dengan kondisi suhu dan tekanan rendah, tetapi sedikit lebih tinggi daripada fasies zeolit. Apabila fasies terbentuk pada tekanan dan temperatur yang menengah, tetapi temperatur lebih besar daripada tekanan, maka fasies tersebut telah memasuki tipe green schist.
Fasies ini merupakan salah satu fasies yang penyebarannya sangat luas. Nama fasies ini sendiri diambil dari warna mineral dominan penyusunnya yakni ada klorit dan epidot yang didominasi oleh warna hijau. Dilanjutkan dengan fasies blue schist yang terbentuk pada tekanan dan temperatur yang menengah, tetapi temperatur lebih kecil daripada tekanan. Fasies ini merupakan salah satu fasies yang penyebarannya sangat luas. Nama fasies ini diambil dari warna mineral dominan penyusunnya yakni ada glaukofan, lawsonite dan jadeite. Contoh batuan asal yang bisa membentuk fasies ini ialah basalt, tuff, greywacke dan rijang. Dilanjutkan dengan faises amfibolit. Untuk fasies amfibolit sendiri terbentuk pada tekanan menengah dan suhu yang cukup tinggi. Penyebaran fasies ini tidak seluas dari fasies sekis hijau. Fasies granulit terbentuk pada tekanan rendah hingga menengah, tetapi pada suhu yang cukup tinggi. Fasies ini adalah hasil dari metamorfisme derajat tinggi namun merupakan hasil metamorfisme yang paling bawah dari kelompok gneiss. Fasies metamorfisme yang terkahir ialah eklogit yang menempati fasies paling tinggi karena terbentuk pada tekanan yang sangat tinggi dan suhu yang besar jauh di dalam bumi. Batuan ini biasanya sangat keras karena terbentuk pada kedalaman yang sangat dalam pada bumi.

Referensi

Davis, George H.1942.Strucural Geology of Rock and Regions. John Wiley & Sons,Inc.New York.

Kembali kehalaman sebelumnya