Tari Ula-Ula Lembing merupakan tarian kreasi masyarakat daerah Aceh Tamiang. Tarian ini termasuk kelompok tari pergaulan yang dikenal juga sebagai tari muda-mudi.[1] Tarian ini harus dibawakan dengan penjiwaan yang lincah dan ceria.
Istilah ula lembing dalam tarian ini berasal dari kata ula dan lembing. Ula merujuk pada kata 'ular', penamaan ini berkaitan dengan pola lantai dan jumlah penari yang seolah menggambarkan kemunculan dan meniru gerak ular.[2] Sementara itu, 'lembing' menjadi simbol pantang menyerah dalam mengejar harapan.[1]
Tari Ula-Ula Lembing diciptakan pada tahun 1971 oleh Rasyid, H. Nurdin Shaleh, Maimun Narasyid, dan Tengku Lat, bersama penari remaja desa setempat sebagai bentuk partisipasi dalam persiapan untuk tampil di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-2 di Banda Aceh tahun 1972. Seiring waktu, tarian ini juga ditampilkan sebagai hiburan dalam upacara adat, pesta perkawinan, penyambutan tamu, kenduri sunah rasul, maupun festival hiburan lainnya.[1]
Sekitar tahun 2007, tarian ini sempat dimasukkan sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah oleh pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan. Namun, pada tahun 2018 tarian ini mengalami rekonstruksi karena hampir keseluruhan gerakannya telah mengalami perubahan.[1]
Pada awalnya, sebelum dipertunjukkan dan Pekan Kebudayaan Aceh, Tari Ula-Ula Lembing hanya ditampilkan oleh lelaki. Namun, seiring perkembangannya tarian ini turut ditampilkan oleh penari wanita. Tarian ini merupakan tari yang menampilkan dua kelompok. Jumlah penari yang dibutuhkan untuk menampilkan tarian ini berada pada rentang 10 - 16 orang.[1]
Penari mengenakan pakaian teluk belangan disertai kain selempang. Warna kain selempang yang digunakan penari, berbeda menyeragamkan dengan kelompoknya. Sebagai hiasan, pada kepala penari dipasangkan bunga kamboja dan sunting.[1]
Tari ini mengadaptasi gerak dasar tari tradisional dan silat Melayu. Terdapat 8 ragam gerak utama yang ditampilkan pada Tari Ula-Ula Lembing termasuk: gerak silat, gerak salam pembuka, gerak ula-ula lembing, gerak kayoh, gerak nunda beting, gerak puku-puku pangke, gerak enjut-enjut kedidi, dan gerak salam penutup.[1][3]
Pertunjukan seni tari ini disertai dengan lagu dan iringan alat musik. Lagu yang disajikan dapat dengan dinyanyikan langsung oleh dua penyanyi atau berupa rekaman suara. Adapun alat musik tradisional yang mengiringi tari ini berupa gendang melayu dan biola. Dalam perkembangannya, digunakan pula instrumen yang lebih beragam seperti kibor dan akordion.[1]
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.